Pertanyaan Jiwa

Kutermenung di suatu senja
Dengan ditemani rintikan hujan
Dan secangkir kopi hangat
Renungan demi renungan mengalir dalam benakku

Apa tujuan hidup?
Apakah aku hanya sebuah jiwa yang mampir di tubuh berwujud manusia?
Pertanyaan itu semakin menghantuiku
Dan waktu terus berjalan
Di tengah pencarian jawaban
Akankah waktuku habis
Sebelum kumenemukan jawaban itu?
Dan ketika waktu itu habis
Akankah kudilahirkan kembali?
Atau aku harus menerima penghakiman
Bolehkah ku tinggal di firdaus
Atau kuharus tinggal di lautan api?

©BERN24

Tentang Waktu

Tags

, , , , ,

shutterstock_271332740

Sumber Gambar: discovermagazine.com

Hari demi hari berganti. Peristiwa demi peristiwa terjadi. Peristiwa yang terjadi hari ini tak akan sama dengan kemarin atau esok hari. Hal itu yang membuat peristiwa menjadi unik. Hal itu pula yang membuat peristiwa terkait dengan waktu.

Tentang Waktu…

Semakin berjalannya waktu, semakin sedikit sisa waktu yang diberikan Sang Pencipta kepada manusia. Entah berapa batas waktu yang diberikan Sang Pencipta kepada masing-masing manusia, tidak ada yang tahu.

Waktu yang diberikan Sang Pencipta bagaikan sebuah sumbu. Ketika sumbu dibakar, maka panjang sumbu akan semakin berkurang. Panjang sumbu awal sebelum dibakar, hanya Sang Pencipta yang tahu. Manusia hanya tahu bahwa sumbu itu akan berkurang seiring berjalannya waktu. Dan saat sumbu itu habis, maka selesai sudah perziarahan manusia di dunia ini.

Ketidaktahuan tentang berapa panjang sumbu waktu yang diberikan oleh Sang Pencipta membuat manusia harus memanfaatkan setiap detik kehidupannya dengan bijak. Tak akan ada pengulangan waktu. Manusia tidak akan bisa kembali ke masa lalu untuk memperbaikinya. Manusia hanya bisa memperbaiki masa kini dan masa depan.

Manusia bijak, memanfaatkan waktu melalui tindakan yang bernilai bagi dunia. Tidak bertindak, tidak melakukan apa-apa, sama saja tidak memanfaatkan waktu yang diberikan secara percuma oleh Sang Pencipta. Selama tak melakukan apa-apa, sumbu waktu akan terus berjalan. Apakah Anda akan terus tidak melakukan apa-apa sambil menanti sumbu itu habis?

©BERN24

 

 

Ruang imajinasi

Tags

, ,

Kududuk, termenung
Di serambi teras rumah perantauanku
Ditemani cahaya bulan purnama
dan gemerlap bintang

Pejamkan mata sejenak
Memasuki lorong gelap gulita
Terus berjalan hingga kutemukan sebuah pintu
Kubuka pintu itu perlahan
Dan keraguan menyelimuti batinku

Terang dan gelap menyelimuti ruang itu
Terpisahkan oleh sebuah garis nyata
Inikah ruang imajinasiku sesungguhnya?

Sisi terang,
Penuh ketenangan,
kedamaian,
kejujuran,
dan lemah lembut

Sisi gelap
Penuh imajinasi kajahatan,
kesombongan,
Iri dengki,
Hawa nafsu,
Penyiksaan terdalam

Dua sisi yang berlawanan dan tak terpisahkan
Manakah sisi yang bangun dari imajinasiku?

Daun Tembakau, Pengepul Asap Dapurku

Tags

, , ,

Dari daun-daun tembakau,
penghidupanku tercukupi
Asap dapurku terus mengepul
asal bisnis dedaunan ini sedang berjaya

Daun-daun tembakaulah aset terbesarku
Daun-daunku tampak seperti emas
Tatkala harga sedang terbang ke langit
Namun, daun-daun kesayanganku bisa jahat terhadapku
Berubah menjadi batu kerikil
Tatkala harga sedang membumi
Sekadar menuntup ongkos tanam dan panen
Bahkan kuharus tersiksa oleh rugi
Apalagi ketika datang hantu-hantu cukai
yang terus melambung
Daun-daunku jadi sepi peminat
Tak lagi kudapatkan uang sekarung pasca panen raya
Dapurku masih bisa mengepul
namun dengan asap yang lebih tipis

Jiwa yang Berziarah di Dunia Fana

Tags

, , , , ,

Seperti apakah jiwa ini sebelum kelahiran?
Akan jadi apakah jiwa ini setelah kematian?
Akankah jiwa ini dilahirkan kembali?
Atau ini kesempatan terakhir jiwa ini berkelana?
Kemana lagi jiwa ini akan mengembara?
Sampai berapa lama lagi jiwa ini mengembara di dunia fana?
Apakah jiwa ini layak diberikan pengampunan?

Penasaran akan Perasaan

Tags

, , , ,

Kupejamkan mata sejenak

Menerawang senyum di wajahmu

Dan lesung pipit yang mekar di pipimu

Membayangkan cara pikir dan rasa penasaranmu

Buatku ikut penasaran

Penasaran akan perasaanmu

Perasaan yang kau kirimkan via isyarat

Isyarat kecil yang berhembus di tengah keramaian

yang hanya terbaca olehku

dan mungkin untukku saja

Benarkah ini pesan perasaan?

atau rasa-rasaku saja

Pesan ini semakin buatku penasaran

Tiba-tiba goncangan bangunkanku dari lamunan

Dan dirimu berkata

“Mas, kamu lagi mikirin apa?”

©BERN24

Literasi dan Inklusi Uang Elektronik di Indonesia

Tags

, , , ,

Dunia digital mulai merambah ke segala aspek kehidupan seperti sosial, budaya, ekonomi, politik. Dunia digital bukan hanya milik generasi milenial saja, melainkan generasi X juga menikmatinya meskipun komposisinya rendah. Menurut Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia, pengguna internet di Indonesia pada tahun 2016 sebesar 132,7 juta pengguna dengan pengguna terbesar berusia 25-34 tahun sebesar 35,8 %. Hal itu menunjukkan sudah 50% jumlah penduduk Indonesia menggunakan internet.

Penggunaan internet telah meluas tidak sebatas untuk browsing atau mengirim surat elektronik (e-mail) tetapi juga untuk kegiatan bisnis, penyelenggaraan pemerintahan, media sosial, dan lain-lain. Penggunaan internet untuk bisnis  berkembang pesat. Transaksi pembelian dan penjualan bisa dilakukan dimanapun asal terkoneksi dengan internet. Lalu bagaimana dengan sistem pembayaran transaksi online?

Sistem pembayaran juga mulai berbenah. Dulu transaksi hanya dibayarkan secara tunai, namun kini transaksi bisa dibayar secara online. Pembayaran bisa dilakukan dengan menggunakan uang elektronik (e-money). Uang elektronik merupakan alat pembayaran yang menggunakan media elektronik seperti komputer dan internet. Uang elektronik dibagi menjadi dua macam yaitu prepaid software dan prepaid card. Prepaid software merupakan bentuk uang elektronik yang nilainya tersimpan di dalam harddisk seperti BukaDompet, DOKU, dan FinPay. Prepaid card merupakan bentuk uang elektronik yang disimpan dalam sebuah chip yang ditanamkan pada sebuah kartu seperti BCA Flash, E-money Mandiri, dan Brizzi.

uang-elektronik-yang-beredar-2008-2015-by-katadata

Sumber: katadata.co.id

Penggunaan uang elektronik di Indonesia pun meningkat setiap tahunnya. Statistik Indonesia menunjukkan jumlah uang elektronik yang beredar di tahun 2015 sebesar 41, 9 juta kartu. Terjadi peningkatan 97 kali lipat dibandingkan dengan tahun 2008. Hal itu menunjukkan terjadinya perubahan gaya pembayaran masyarakat Indonesia dari pembayaran tunai menjadi pembayaran elektronik.

This slideshow requires JavaScript.

Data Statistik Indonesia juga menunjukkan kenaikan volume dan nilai transaksi penggunaan uang elektronik selama tahun 2008 hingga 2015. Hal ini menunjukkan volume transaksi berbanding lurus dengan nilai transaksi uang elektronik. Hingga tahun 2015, volume dan nilai transaksi yang menggunakan uang elektronik sebesar 535,6 juta transaksi dan Rp 5,3 triliun.

jumlah-uang-palsu-2011-2015-by-katadata

Sumber: katadata.co.id

Pembayaran transaksi melalui uang elektronik diharapkan mampu meminimalisir berbagai tindak kecurangan seperti peredaran uang palsu. Namun, kenyataannya Data Statistik menunjukkan peredaran uang palsu terus meningkat. Hingga tahun 2015, masih terdapat pemalsuan uang sebanyak 280,7 ribu lembar per 1 juta uang yang beredar. Itu menunjukkan betapa riskannya penggunaan uang cetak. Apabila masyarakat sudah mulai beralih ke uang elektronik, maka pencetakan uang akan dikurangi sehingga menurunkan juga kemungkinan pemalsuan uang.

Penggunaan uang elektronik juga mampu menghemat biaya pencetakan uang. Menurut data Bank Indonesia, terdapat 210.493,5 miliar rupiah yang dimusnahkan karena tidak layak edar. Hal ini menunjukkan bahwa uang cetak memiliki resiko kerusakan fisik. Kerusakan fisik harus diperbaiki dengan melakukan pencetakan baru dan pemusnahan uang lama. Padahal biaya untuk mencetak uang tidak murah.

Nah, dengan tingkat pemalsuan uang yang tinggi serta biaya mencetak uang yang mahal, sudah saatnya masyarakat beralih ke uang elektronik. Uang elektronik juga bisa digunakan untuk melacak transaksi sehingga meminimalisir tindakan korupsi. Masih berpikir dua kali untuk beralih ke uang elektronik?

Referensi

[1] https://www.apjii.or.id/content/read/39/264/Survei-Internet-APJII-2016

[2] http://www.inipengertian.com/2016/02/pengertian-e-money-dan-manfaatnya.html

[3] https://www.bukalapak.com/

[4] https://www.doku.com/id/konsumen

[5] https://finpay.co.id/

[6] http://www.bi.go.id/id/sistem-pembayaran/instrumen-nontunai/unik/Contents/Default.aspx

[7] http://databoks.katadata.co.id/datapublish/2016/08/04/uang-elektronik-yang-beredar-2008-2015

[8] http://databoks.katadata.co.id/datapublish/2016/08/04/nilai-transaksi-uang-elektronik-2008–2015

[9] http://databoks.katadata.co.id/datapublish/2016/08/04/volume-transaksi-uang-elektronik-2008–2015

[10] http://databoks.katadata.co.id/datapublish/2016/08/04/jumlah-uang-palsu-2011-2015

Sudah Tepatkah Sistem Pendidikan di Indonesia?

x1461983119-pendidikan.jpg.pagespeed.ic.u_A3iqva3z

Dunia pendidikan sudah saya lalui selama lebih dari 12 tahun mulai dari Sekolah Dasar, Sekolah Menengah Pertama, hingga Sekolah Menengah Atas. Dalam memilih sekolah pun, kedua orang tua saya tidak ingin sembarangan memilih karena pendidikan merupakan investasiku di masa depan. Saya masuk SMP PL Domenico Savio dan SMA Kolese Loyola yang terkenal dengan sulitnya persaingan memperebutkan kursi menjadi siswa. Tak hanya memperebutkan kursi menjadi siswa, untuk lulus pun juga sulit. Perlu jatuh bangun dan mental yang kuat untuk menerima nilai yang jelek saat ujian. Bahkan nilai minus pun ada di SMA-ku (lebih rendah dari nol).

Selepas itu saya melanjutkan pendidikan di Universitas Gadjah Mada dengan mengambil konsentrasi jurusan Akuntansi. Sejak memasuki dunia perkuliahan, mata saya mulai terbuka mengenai sistem pendidikan di Indonesia. Saya membandingkan sistem pendidikan di Indonesia dengan negara lain seperti Finlandia. Siswa di negara tersebut lebih bahagia karena jam belajar yang lebih pendek, tidak ada PR sehingga mereka mempunyai waktu lebih untuk mengembangkan kreativitas dan berinteraksi dengan orang di sekitar.Melihat perbandingan tersebut, menurut saya sistem pendidikan di Indonesia belum matang. Kenapa? Berikut ini uraiannya.

Continue reading