Tags

, , , ,

Tak dipungkiri lagi bahwa korupsi menjadi musuh bersama negeri ini. Wajah-wajah koruptor menghiasi layar televisi ketika tertangkap tangan oleh KPK. Masyarakat berseru-seru tentang pemberantasan korupsi. Mahasiswa berdiskusi, bahkan berunjuk rasa mengenai hal yang berkaitan dengan korupsi. Seruan unjuk rasa terkadang berbuntut dengan kerusuhan. Sebenarnya ada cara lain bagi mahasiswa yang lebih elegan untuk menyampaikan aspirasi dan keluh kesahnya mengenai maraknya korupsi.

Melalui unjuk rasa, mahasiswa menuntut pemberantasan korupsi, penyelesaian kasus, keterbukaan informasi dan lain sebagainya. Namun, menurut saya, mahasiswa terlalu banyak menuntut. Penyelesaian dan pemberantasan kasus korupsi tidak hanya pihak yang berwenang tetapi juga dari diri mahasiswa sendiri. Sebagai mahasiswa, sudahkah anda terbebas dari korupsi?

Melihat realita yang ada dalam dunia pendidikan saat ini, bibit korupsi sebenarnya sudah dibentuk sejak menempuh pendidikan. Saya sebagai salah seorang mahasiswa di salah satu perguruan tinggi negeri melihat realitas sehari-hari mengenai buruknya integritas pendidikan di Indonesia. Salah satu yang paling saya soroti adalah kebiasaan “Titip Absen”. Memang kebiasaan ini sudah ada dari dulu, sudah sejak zaman Ibu saya jadi mahasiswa. Namun, ironinya kebiasaan “Titip Absen” diturunkan ke mahasiswa generasi berikutnya hingga menjadi budaya. Karena sudah menjadi budaya, maka tindakan seperti ini dianggap mahasiswa sebagai tindakan yang diperbolehkan.

Saya termasuk orang yang idealis. Saya bersikap anti terhadap “Titip Absen” semenjak pertama kali kuliah. Saya belum pernah sekalipun meminta tolong teman untuk menandatangani presensi kuliah saya. Pun juga saya tidak pernah memenuhi permintaan teman untuk menandatangani presensinya. Saya memegang itu sebagai sebuah prinsip untuk menjunjung integritas. Saya tidak ingin menodai kepribadian saya dengan tindakan busuk seperti itu.

Titip absen juga merupakan bentuk korupsi dan ketidakadilan tahap awal. Seorang teman saya sering melakukan hal tersebut (bukan meminta pada saya). Dia masuk perkuliahan hanya pada minggu pertama dan saat ada presentasi. Sisanya meminta “titip absen”. Selalu ada tanda tangan teman saya walaupun saya jarang melihat teman saya ada di kelas, bagaikan mahasiswa hantu saja. Padahal terdapat syarat presensi minimal untuk dapat mengikuti ujian akhir. Hal itu terasa tidak adil bagi mahasiswa yang rajin mengikuti perkuliahan karena temannya bisa ikut ujian meskipun tidak masuk kuliah lebih dari minimal ketidakhadiran, bagaikan mahasiswa hantu saja. Padahal terdapat syarat presensi minimal untuk dapat mengikuti ujian akhir. Hal itu terasa tidak adil bagi mahasiswa yang rajin mengikuti perkuliahan karena temannya bisa ikut ujian meskipun tidak masuk kuliah lebih dari minimal ketidakhadiran. Teman saya tersebut malah bangga melakukan tindakan tidak terpuji itu.

Menurut saya pribadi, titip absen merupakan “pelajaran” untuk berbuat korupsi. Perbedaannya terletak pada imbalan yang diterima. Ketika titip absen dilakukan mahasiswa, imbalannya adalah ikatan pertemanan yang terjaga. Mahasiswa yang menandatangani presensi teman dapat menjaga pertemanannya, sedangkan mahasiswa yang minitip “absen” dapat memenuhi syarat kehadiran minimal tanpa menghadiri kuliah. Hal tersebut serupa dengan kasus korupsi yang terjadi di sekitar kita. Koruptor ibaratkan mahasiswa yang menitip “absen”. Koruptor berusaha untuk mendapatkan keuntungan (biasanya secara finansial). Setelah tindakan korupnya berhasil, mereka berusaha untuk tidak ketahuan oleh pihak lain. Caranya dengan melakukan suap atau membagi hasil supaya korupsi yang mereka lakukan aman.

Kalau melihat kesamaan tersebut sudah sewajarnya pemberantasan korupsi dimulai sejak pendidikan. Pemberantasan dimulai dari tindakan disintegritas mahasiswa. Hal itu dilakukan supaya mahasiswa tidak terbiasa dengan menikmati keuntungan yang bukan menjadi haknya. Masihkah kalian ingin berunjuk rasa mengenai kasus korupsi? Apakah sudah kalian refleksikan diri anda sendiri korup atau tidak? Cobalah bercermin. Sebelum memberantas korupsi di negeri ini, berantaslah tindakan korup yang ada pada diri kalian sendiri.

©BERN24

Advertisements