x1461983119-pendidikan.jpg.pagespeed.ic.u_A3iqva3z

Dunia pendidikan sudah saya lalui selama lebih dari 12 tahun mulai dari Sekolah Dasar, Sekolah Menengah Pertama, hingga Sekolah Menengah Atas. Dalam memilih sekolah pun, kedua orang tua saya tidak ingin sembarangan memilih karena pendidikan merupakan investasiku di masa depan. Saya masuk SMP PL Domenico Savio dan SMA Kolese Loyola yang terkenal dengan sulitnya persaingan memperebutkan kursi menjadi siswa. Tak hanya memperebutkan kursi menjadi siswa, untuk lulus pun juga sulit. Perlu jatuh bangun dan mental yang kuat untuk menerima nilai yang jelek saat ujian. Bahkan nilai minus pun ada di SMA-ku (lebih rendah dari nol).

Selepas itu saya melanjutkan pendidikan di Universitas Gadjah Mada dengan mengambil konsentrasi jurusan Akuntansi. Sejak memasuki dunia perkuliahan, mata saya mulai terbuka mengenai sistem pendidikan di Indonesia. Saya membandingkan sistem pendidikan di Indonesia dengan negara lain seperti Finlandia. Siswa di negara tersebut lebih bahagia karena jam belajar yang lebih pendek, tidak ada PR sehingga mereka mempunyai waktu lebih untuk mengembangkan kreativitas dan berinteraksi dengan orang di sekitar.Melihat perbandingan tersebut, menurut saya sistem pendidikan di Indonesia belum matang. Kenapa? Berikut ini uraiannya.

  • Sistem Pendidikan di Indonesia Sering Berubah-ubah

Ada kecenderungan bergantinya menteri pendidikan Indonesia, berganti pula kurikulum pendidikan yang diberlakukan. Hal itu menimbulkan pendapat supaya menterinya terlihat bekerja bagi kalangan masyarakat terutama para guru yang berkaitan langsung dengan pendidikan siswa. Awal tahun 2017, salah satu guru SMA saya bercerita keluh-kesahnya mengenai sistem pendidikan yang baru. Beliau keberatan dengan banyaknya ujian yang wajib diikuti oleh siswa didik seperti Ujian Sekolah (US), Ujian Sekolah Berstandar Nasional (USBN), dan Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK). Selain banyaknya ujian, ujian baru membingungkan karena belum jelasnya sistem yang dibuat. Untuk UNBK, siswa hanya diwajibkan untuk mengikuti satu mata pelajaran jurusan. Misalnya saja dalam jurusan ilmu sosial terdapat mata pelajaran ekonomi, sosiologi, dan geografi. Siswa boleh memilih mata pelajaran ekonomi saja. Namun, sistem ini menyebabkan beberapa mata pelajaran sepi peminat. Lalu, Ujian Nasional Berbasis Komputer juga terkendala oleh fasilitas komputer yang tersedia.

  • Tugas dan Jumlah Pelajaran yang Terlalu Banyak

Sebagai seorang pelajar atau mahasiswa, pasti pernah merasakan tuntutan tugas yang bertubi-tubi. Tak jarang mahasiswa dan pelajar mengerjakannya dengan SKS alias sistem kebut semalam atau deadliner.

Niat guru atau dosen memberikan tugas itu untuk membiasakan diri menghadapi tuntutan pekerjaan. Namun, terkadang guru atau dosen melupakan juga hal lain yang diinginkan oleh pelajar. Mereka ingin juga mengembangkan skill di bidang lain. Tugas yang terlalu banyak mengurangi waktu pelajar untuk mengembangkan bakat lainnya. Tenaga mereka juga terkuras untuk memenuhi tuntuan tugas sehingga saat ingin mengembangkan bakat di luar akademik, pelajar sering kehabisan tenaga.

Selain tuntutan tugas, tuntutan mata pelajaran yang banyak juga turut membebani pelajar. Pelajar dituntut memahami semua mata pelajaran supaya dianggap sebagai pelajar yang ideal. Padahal setiap pelajar mempunyai minat yang berbeda. Tidak semua orang menyukai matematika, tetapi mereka dituntut untuk menguasai matematika dengan baik. Bisa saja seseorang mempunyai bakat di bidang seni, namun tetap dituntut untuk menguasai hal yang bukan bidangnya.

Ada ilustrasi yang cukup popular untuk sistem tersebut. Dalam sebuah kebun binatang, terdapat empat jenis hewan yaitu monyet, ikan, kura-kura, dan singa. Mereka masuk dalam suatu pelajaran bernama memanjat. Tentunya monyet lah yang paling pintar dalam pelajaran ini. Lalu, bagaimana dengan ikan? Apakah dia tidak cerdas dan berbakat. Tentu untuk urusan memanjat, ikan tidak mempunyai keahlian, tetapi kalau urusan berenang, dialah jagonya. Terkadag guru atau dosen melihat siswanya dari satu sudut pandang. Padahal masing-masing orang membutuhkan pendekatan yang berbeda.

  • Lebih Mengutamakan Nilai (Score) dan Kemampuan Mengingat daripada Pemahaman, Mental, dan Karakter

Di dunia pendidikan sekarang, nilai (score) menjadi suatu hal yang diagung-agungkan. Pelajar bersaing untuk mendapatkan nilai tertinggi baik itu dalam ujian nasional, ujian sekolah, ataupun IPK. Terkadang pelajar menghalalkan segala cara untuk meraih nilai tertinggi seperti bocoran, mencontek, atau plagiat.

Situasi pengagungan nilai menghilangkan esensi pendidikan. Sejatinya pendidikan adalah sarana manusia untuk memperoleh ilmu. Ilmu tersebut akan berguna untuk kehidupan. Jika seseorang mengutamakan nilai dibandingkan dengan pemahaman, maka ilmu yang dipelajari akan luntur termakan waktu. Dia hanya akan mengerti ilmu tersebut saat mereka mempelajarinya. Hal itu karena mereka mengingat materi untuk mendapatkan nilai terbaik, bukan pemahaman terbaik. Berbeda jika seseorang belajar untuk mendapatkan pemahaman ilmu. Ilmu tersebut akan melekat pada seseorang dan mungkin suatu saat akan berguna di kehidupan mereka

Ada pepatah “Non Scholae Sed Vitae Discimus”. Belajar untuk hidup, bukan hidup untuk belajar.

Advertisements