Tags

, ,

17 Agustus 2017, Republik Indonesia yang kucintai berulang tahun yang ke 72. Kemerdekaan yang diraih Indonesia di tahun 1945 telah melepaskan bangsa ini dari belenggu penjajahan bangsa lain seperti Belanda dan Jepang. Perjuangan melepas belenggu penjajahan 72 tahun lalu dilakukan oleh para pahlawan dengan melawan bangsa lain baik secara fisik maupun diplomasi. Lantas, apakah sekarang kita sudah merasa merdeka? Jika belum, kita belum merdeka dari siapa?

Merdeka merupakan suatu perasaan bebas yang hanya dimiliki oleh orang yang merasa terkekang haknya. 72 tahun lalu, bangsa Indonesia terkekang haknya oleh Belanda dan Jepang. Perasaan terkekang yang dirasakan secara massal, bukan hanya satu orang melainkan satu bangsa. Kini, meskipun bangsa Indonesia telah merdeka, belum tentu setiap individu yang menjadi bagian dari bangsa ini merasa merdeka. Mungkin saja ada beberapa orang yang belum merasa merdeka secara fisik, ekonomi, atau ideologi.

Saya pernah merasakan kemerdekaan secara individu. Kemerdekaan yang kudapat dengan beberapa pengorbanan. Pengorbanan yang terbekas dalam ingatan, berselisih dengan ibu.

Waktu SMA kelas 10, saya menerima rapor kenaikan kelas. Di dalam rapor tersebut, tertera tulisan ‘naik kelas’. Istimewanya, saya bisa memilih jurusan yang saya inginkan. Hak privilege yang sulit didapatkan untuk SMA sekelas Loyola di mana naik kelas saja sudah bersyukur. Saat itu, saya berpikir untuk memilih jurusan IPS. Pertimbangannya, saya membenci mata pelajaran Biologi dan lebih menyenangi pelajaran Ekonomi. Selain itu, sejak kelas 9 SMP, saya telah memutuskan untuk menjadi seorang akuntan. Saya termotivasi menjadi akuntan karena ayah bekerja sebagai dosen akuntansi. Maka dari itu saya memilih jurusan IPS untuk lebih fokus mempelajari akuntansi.

Pilihan jurusan IPS saya sampaikan ke orang tua. Ayah menyetujui pilihan tersebut. Namun, ibu menolak pilihan tersebut. Alasannya, jurusan IPS memiliki pilihan yang lebih sedikit untuk mencari jurusan kuliah dibandingkan dengan jurusan IPA. Penolakan ini membuatku terkekang. Hak ku seakan dirampas.

Saat itu, jiwa memberontakku keluar. Saya merasa berhak menentukan nasib sendiri. Saya yang akan menjalani sisa dinamika dua tahun di SMA, bukan ibu saya. Akhirnya, saya meminta tanda tangan ayah untuk daftar ulang kelas 11 dengan jurusan IPS tercentang di dalamnya. Semenjak itu, saya berselisih dengan ibu selama 1 bulan. Uang saku pun tak lagi mengalir dari kantong ibuku. Tak masalah bagiku jika tak mendapat uang saku dari ibu, toh saya bisa lebih menikmati dinamika kelas IPS.

Perjalanan dua tahun sebagai bagian anak IPS tidak seburuk yang dibayangkan ibuku. Saya menikmati dinamika yang ada. Keunikan pengalaman yang tak akan didapat jika saya memilih jurusan IPA. Bersama teman, bahu-membahu membuat acara Festival Film Anak Sosial 3 (FESFIAS 3).

FESFIAS merupakan acara dua tahunan milik anak IPS Loyola. Acara ini merupakan ajang kompetisi pembuatan film bagi kelas 11 dan 12 jurusan IPS. Penggarapan film menjadi kenangan yang tak terlupakan. Saat penggarapan film, saya tergabung dalam komunitas kelas 12 B. Take berulang-ulang, pergi ke luar kota untuk mencari spot scene yang bagus, pulang malam, nginep rumah teman, mengangkut perlengkapan take menjadi makanan sehari-hari selama 3 bulan penggarapan film. Kebersamaan satu kelas pun tercipta. Kerja keras pun berbuah karya film berjudul Contrary. Puncak kepuasan terasa saat penanyangan film Contrary saat pertengahan Desember 2013. Rasanya senang dan bangga bisa menyuguhkan tontonan hasil karya kelas. Andai saja dulu saya memilih jurusan IPA. Tak akan ada kenangan seperti ini.

 

Puncak dari keputusan saya memilih jurusan IPS yaitu ketika saya diterima sebagai mahasiswa jurusan Akuntansi Universitas Gadjah Mada tahun 2015. Perjuangan untuk menekuni jurusan IPS terbayarkan. Hasil ini merupakan sebuah pembuktian keputusanku beberapa tahun lalu. Ibuku pun berkata ” De, selamat ya ketrima di Akuntansi UGM. Ini kado ulang tahun pernikahan ibu yang terindah.” Akhirnya, setelah bertahun-tahun, ibuku mengakui keputusanku memilih jurusan IPS.

Itulah makna kemerdekaan menurut saya. Merdeka adalah situasi yang dapat membuat keputusan tanpa ada tekanan. Manusia mempunyai kebebasan untuk menentukan nasibnya sendiri. Manusia bukanlah robot bagi manusia lain. Manusia bukanlah wayang yang dikendalikan oleh manusia lain. Karena wayang dan robot tidak memiliki rasa.

Sudahkah anda merdeka secara individu?

©BERN24

 

Advertisements